Senin, 26 September 2011

mitrabatikputa desa bentar


SEJARAH BATIK TULIS TANGAN
DI KECAMATAN SALEM KABUPATEN BREBES
MITRA BATIK DESA BENTAR

                Batik adalah hand made dengan cara gambar, motif dan corak yang ditorehkan pada kain mori, sutra maupun serat alam dengan menggunakan malam (wax ) dengan cara decanting (ditulis), dicap dan dapat pula dibantu dengan kuas. Kain bergambar tersebut kemudian diberi warna melalui pencelupan memakai rendaman aneka ragam tanaman (pewarna alam) dan pewarna kimia (sintesis) setelah dicelup dan dijemur, kain direbus atau di kerok sehingga lapisan malam hilang dan kain menjadi jelas dan indah
 Batik Salem adalah batik tulis tangan yang diproduksi oleh masyarakat Kecamatan Salem bagian Utara khususnya Desa Bentar, Bentarsari dan Desa Ciputih dan sekitarnya. Secara geografis wilayah ini letaknya disebuah lembah pegunungan,yang di apit oleh dua buah pegunungan diantaranya di sebelah utara yaitu pegunungan Kumbang, dan wilayah paling selatan terdapat lagi sebuah pegunungan kecil wilayah ini juga sebagai perbatasan wilayah kabupaten Cilacap dengan Kabupaten Brebes. Wilayah ini juga beriklim tropis dan bertanah subur sehingga  sangat cocok untuk lahan pertanian terutama padi.
                Secara ekonomi Masyarakat Salem khususnya Salem Utara desa Bentar dan desa Bentarsari kehidupannya beraneka ragam ada yang berprofesi sebagai pegawai negeri, perantau, pedagang dan mayoritas bertani padi tetapi untuk menambah pendapatan keluarga, mereka mengembangkan kerajinan tangan seperti anyaman dari bambu dan membuat batik tulis tangan yang merupakan asli kerajinan turun temurun warisan nenek moyang.
                Kerajinan batik tulis tangan merupakan salah satu mata pencaharian yang ada di wilayah Salem utara yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Setelah penjajah Belanda masuk ke Indonesia Batik Salem sudah ada yang merintis yaitu nenek moyang yang berasal dari Jogja, menurut sejarah pada tahun 1920-an mereka datang ke Salem desa Bentarsari untuk mengamankan diri dari serangan penjajah kemudian menetap dan menjadi penduduk asli setempat. Selama tinggal di Bentarsari mereka mengajarkan membuat batik kepada masyarakat sekitar terutama ibu-ibu. Adapun motif batik yang mereka ajarkan pada saat itu masih sangat klasik (kuna) seperti  motif batik ukel, batik kopi pecah, batik manggar, dan batik giringsing. Pada waktu itu masyarakat belum dapat mengembangkan motif batik yang lain selain motif-motif yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Pada tahun 1925 munculah pelopor pembatik baru yang berasal dari Tegal yaitu Mbah Breden yang bekerja di kantor Kecamatan Salem, beliau mempunyai anak yang bernama Idi dan Khatijah yang sama-sama pintar membuat batik lalu mereka mengajarinya kepada masyarakat sekitar terutama untuk ibu-ibu dengan bahan seadanya, sangat sederhana dengan bahan pewarna dari alam seperti soga nila cangkudu, soga kulit godog, dan rempah-rempah seperti daun Kamandika dan daun Tarum, kunir, batang pohon cengkudu, kulit pohon mahoni dan masih banyak yang lainya yang banyak ditanam oleh masyarakat Bentarsari dan sekitarnya.
Dari tahun ke tahun batik tulis tangan yang telah mereka ajarkan terus mengalami peningkatan baik dari segi kwalitas, warna, maupun motif batik. Terbukti dengan ditemukanya tempat produksi pewarna dari bahan kimia pada tahun 1960 di Kota Tegal dan Pekalongan oleh Mbah Rukirat, bahan pewarna tersebut diantaranya soga nila, wedelan hitam, dan soga batang. Hal ini memudahkan para pembatik tulis tangan untuk meningkatkan mutu warna dari batik yang di buat.
Kira-kira tahun 1905 pembatik di wilayah Salem sudah mulai sedikit berkembang walaupun hanya ada beberapa pembatik saja dari setiap dusunnya. Pada tahun 1925 batik salem sudah mulai dikembangkan terbukti dengan munculnya beberapa pembatik yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga yang tinggal di Kampung Parenca Desa Bentarsari seperti Bu Kuswi, Ibu Kus, Ibu Mur, Bu Makmun, Bu Walad, mereka yang mampu membuatkan batik-batik untuk para pejabat pegawai kecamatan, pegawai kawedanan, dan untuk para juru tulis walaupun batik yang dihasilkan sangat sederhana motif batik yang dihasilkan adalah batik ukel, sekoteng, uwal-awil, halang lembut, halang badag, halang barong, kopi pecah dan manggar.
                Pada tahun 1935 batik salem sudah mulai berkembang terbukti dengan adanya kaum pendatang dari Tasik Jawa Barat yang menjual peralatan batik salah satunya yaitu Bapak Halil yang bertempat di pasar Bentar, ini menunjukan bahwa para pembatik baru pada saat itu sudah bermunculan dan memang untuk bahan batik sangat sulit diperoleh karena letak geografis dan transportasi yang masih sangat tradisional pada saat itu maka, dengan kondisi yang seperti ini berdatangan penjual bahan batik bahan-bahan yang dijual seperti kain mori, Soga nila, dan alat lainnya. Pada saat itu masyarakat belum mengenal pewarna batik sehingga batik yang dihasilkan masih klasik/ tidak berwarna seperti batik ukel, batik Sekoteng dll model warna batik tersebut  hanya mempunyai warna hitam dan putih saja karena soga yang digunakan adalah soga nila cangkudu, soga kulit godog, dan rempah-rempah seperti daun Kamandika dan daun Tarum yang banyak ditanam oleh masyarakat Desa Bentarsari, Desa Bentar.
Pada tahun 1950-an Sampai sekarang batik salem sudah berkembang sesuai dengan meningkatnya keahlian para pembatik walaupun masih dikategorikan sangat sederhana dan tradisional. Pada saat itu batik-batik di Salem yang diproduksi sudah mampu memenuhi pesanan dari para pengepul untuk di jual ke wilayah lain
Pada saat ini dimana arus transportasi, komunikasi yang cukup memadai dan mendukung sehingga para pembatik meningkatkan kualitas dan hasil batiknya mulai dari motif  batik, pewarna, dan bahan-bahan lainnya. Untuk memenuhi pesanan konsumen para pembatik mengembangkan kreatifitasnya dengan membuat motif –motif batik baru yang dirancang sendiri salah satunya oleh Bapak Warwin dan Ibu Ruwidah dari Mitra Batik Desa Bentar motif-motif batik yang dihasilkan yaitu batik mahkota, Bintang melati, teratai, dengan corak warna warni yang bermacam-macam, kuat dan tahan lama walaupun masih ada corak lama atau model yang tradisional.
                Dari tahun ke tahun batik salem sedikit berkembang dan dikenal di Kabupaten  Brebes. Pada saat itu batik salem belum dikenal pada tingkat provinsi. Pada tahun 1990 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes batik salem sudah mulai dikenal dan di minati oleh sebagian masyarakat Brebes pada tingkat masyarakat menengah ke atas karena batik salem bersifat klasik dan asli ditulis tangan.
                Pada Bulan Mei tahun 2002 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes para pembatik salem mendapat bantuan alat, bimbingan, dan pembinaan. Alat yang di berikan yaitu seperti canting, kompor minyak, pegawangan, bak plastik, dan drum untuk melorod batik, juga dengan bimbingan dan pembinaan dengan mendatangkan orang-orang yang sudah professional dalam pegolahan batik. Muali dari teknik membuat motif baru, teknik pewarnaan, dan teknik penyempurnaan kwalitas batik. Setelah mendapatkan pembinaan para pembatik mengembangkan kreatifitasnya dengan membuat motif-motif yang baru seperti motif batik bintang melati, motif batik mahkota, motif batik seruni, teratai dan lain-lain. Juga dengan pewarnaan yang bervariasi dan berkwalitas seperti naptol, sol, frozen dan fremasol. Hal ini menjadikan produk batik tulis tangan salem lebih berkualitas dan bermutu serta warna yang awet dan tahan lama. Seiring dengan perkembangan, kemajuan pembatik sangat pesat tercatat dari tahun 2003 pembatik di sudah berjumlah 200 Orang hingga pada tahun 2007 meningkat menjadi 300 orang, dan tak jarang dari mereka menjadi pengepul batik salah satunya yaitu Ibu Ruwidah ( MITRA BATIK ), ibu Julaiha, ibu Karas, ibu sutini, ibu Ratminah.
Dari tahun ke tahun akhirnya batik salem sudah dikenal ditingkat Jawa Tengah terbukti dengan diikutsertakannya batik salem dalam pameran-pameran tingkat Jawa Tengah dan sudah adanya masyarakat dari luar wilayah wilayah kabupaten Brebes yang memakai Batik salem seperti wilayah semarang dan sekitarnya.  Pada Bulan April 2004 kembali Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes bersama Bapak Bupati Brebes Bapak Indra Kusuma, S.Sos dan Lembaga lainnya mengadakan pembinaan dan pengarahan sambil memperkenalkan batik cap dan tulis tangan kepada para pembatik di desa Bentar sehingga batik salem dapat menjadi satu kerajinan khas masyarakat Brebes.
Pada tahun 2003 melalui dukungan dan bantuan Bapak Bupati Brebes Bapak Indra Kusuma, S.Sos dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Brebes pemasaran batik tulis tangan dari Salem mengalami kemajuan yang sangat pesat. Terbukti dengan diberlakukanya intruksi Bapak Bupati yag mewajibkan para Pegawai Negeri Sipil harus memakai batik tulis tangan Salem setiap hari Kamis. Sehingga batik tulis tangan semakin dikenal di seluruh masyarakat Kab. Brebes.
                Pada Bulan Juni tahun 2002 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah batik salem sudah dikenal dan diakui di tingkat Nasional terbukti dengan diikutsertakannya batik salem dalam pameran-pameran tingkat Nasional dan pameran-pameran yang pernah diikuti antar lain Pameran Batik tulis yang bertempat di Ujung Pandang Sulawesi Selatan, Jakarta, alun-alun Salatiga, hingga pada tanggal 1 September 2007 Mitra Batik Ibu Warwin mendapat undangan Dari Wali kota Pekalongan pada acara Pembukaan Pekan Batik Internasional tahun 2007 dan silaturahmi saudagar batik Pekalongan yag dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia , pada tanggal 11 Agustus 2007 melalui Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tangah kembali Mitra Batik Ibu warwin Sunardi mendapat undangan pameran Lomba Rancang Busana Batik dan Tenun Jawa Tengah dalam rangka Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke-57 dan Semarang Pesona Asia ( SPA ) 2007, pada tanggal 14 Juli 2007 melalui Deperindag Kab. Brebes Mitra Batik Ibu Warwin Sunardi mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan Pameran Pekan Kesenian Bali 2007 (termasuk batik salem) di Artha Chandra Art Center Denpasar – Bali selama satu Bulan. Dan pada bulan Agustus sebagai perwakilan dari kab. Brebes untuik menghadiri pameran batik se- Indonesia yang bertempat di Batam, namun kami tidak bisa menghadirinya dikarenakan adanya beberapa halangan. Pada tanggal 29 Januari 2008 Mitra Batik mendapat undangan untuk pameran di Semarang yang diadakan oleh Paguyuban pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono Semarang selama satu minggu
                Akhirnya kami berharap batik salem dapat menjadi salah satu kerajinan khas warga Kabupaten Brebes yang dapat membawa nama baik Brebes di tingkat Propinsi, Nasional dan Internasional. Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Bupati Brebes Bapak Indra Kusuma S.Sos dan DEPERINDAG Kab. Brebes atas pembinaan yang telah dilakukan pada para pembatik di salem







                                                                                                                Bentar, 13 Pebruari 2008






                                                                                                                       MITRA BATIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar