Senin, 26 September 2011
guns
kesedihan itu menimpa semua org namun kegembiraan itu hilang ketika seseorang itu lemah dan tak memiliki kesempatan ... tp hanya org2 yg beruntung yang bisa bangkit kembali .. smoga aku dekat dg kebruntungan...
Salem Partners Bentar Brebes Batik Java
Provides batik with the best quality and high quantity with the model and pattern images are high quality with competitive price cheap consisting of a white background batik, batik batik colors & classic.
Available stock stand batik Brebes branch in the Ministry of Central Java, Simpang Lima and Mall Ciputra Semarang in Batik Devi
No contact. Tel. : 08157690129 (Bp. / Mother Warwin Sunardi) & 085 642 794 021 (Gunawan)
Salem Partners Bentar Brebes Batik Java
Provides batik with the best quality and high quantity with the model and pattern images are high quality with competitive price cheap consisting of a white background batik, batik batik colors & classic.
Available stock stand batik Brebes branch in the Ministry of Central Java, Simpang Lima and Mall Ciputra Semarang in Batik Devi
No contact. Tel. : 08157690129 (Bp. / Mother Warwin Sunardi) & 085 642 794 021 (Gunawan)
mitrabatikputa desa bentar
SEJARAH
BATIK TULIS TANGAN
DI
KECAMATAN SALEM
KABUPATEN BREBES
MITRA BATIK
DESA BENTAR
Batik
adalah hand made dengan cara gambar, motif dan corak yang ditorehkan pada kain
mori, sutra maupun serat alam dengan menggunakan malam (wax ) dengan cara
decanting (ditulis), dicap dan dapat pula dibantu dengan kuas. Kain bergambar
tersebut kemudian diberi warna melalui pencelupan memakai rendaman aneka ragam
tanaman (pewarna alam) dan pewarna kimia (sintesis) setelah dicelup dan
dijemur, kain direbus atau di kerok sehingga lapisan malam hilang dan kain
menjadi jelas dan indah
Batik Salem
adalah batik tulis tangan yang diproduksi oleh masyarakat Kecamatan Salem bagian Utara
khususnya Desa Bentar, Bentarsari dan Desa Ciputih dan sekitarnya. Secara
geografis wilayah ini letaknya disebuah lembah pegunungan,yang di apit oleh dua
buah pegunungan diantaranya di sebelah utara yaitu pegunungan Kumbang, dan
wilayah paling selatan terdapat lagi sebuah pegunungan kecil wilayah ini juga
sebagai perbatasan wilayah kabupaten Cilacap dengan Kabupaten Brebes. Wilayah
ini juga beriklim tropis dan bertanah subur sehingga sangat cocok untuk lahan pertanian terutama
padi.
Secara
ekonomi Masyarakat Salem khususnya Salem Utara desa Bentar dan desa Bentarsari
kehidupannya beraneka ragam ada yang berprofesi sebagai pegawai negeri,
perantau, pedagang dan mayoritas bertani padi tetapi untuk menambah pendapatan
keluarga, mereka mengembangkan kerajinan tangan seperti anyaman dari bambu dan
membuat batik tulis tangan yang merupakan asli kerajinan turun temurun warisan
nenek moyang.
Kerajinan
batik tulis tangan merupakan salah satu mata pencaharian yang ada di wilayah Salem utara yang sudah ada
sejak masa penjajahan Belanda. Setelah penjajah Belanda masuk ke Indonesia
Batik Salem sudah ada yang merintis yaitu nenek moyang yang berasal dari Jogja,
menurut sejarah pada tahun 1920-an mereka datang ke Salem desa Bentarsari untuk
mengamankan diri dari serangan penjajah kemudian menetap dan menjadi penduduk
asli setempat. Selama tinggal di Bentarsari mereka mengajarkan membuat batik
kepada masyarakat sekitar terutama ibu-ibu. Adapun motif batik yang mereka
ajarkan pada saat itu masih sangat klasik (kuna) seperti motif batik ukel, batik kopi pecah, batik
manggar, dan batik giringsing. Pada waktu itu masyarakat belum dapat mengembangkan
motif batik yang lain selain motif-motif yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Pada tahun 1925 munculah
pelopor pembatik baru yang berasal dari Tegal yaitu Mbah Breden yang bekerja di
kantor Kecamatan Salem, beliau mempunyai anak yang bernama Idi dan Khatijah
yang sama-sama pintar membuat batik lalu mereka mengajarinya kepada masyarakat
sekitar terutama untuk ibu-ibu dengan bahan seadanya, sangat sederhana dengan
bahan pewarna dari alam seperti soga nila cangkudu, soga kulit godog, dan
rempah-rempah seperti daun Kamandika dan daun Tarum, kunir, batang pohon
cengkudu, kulit pohon mahoni dan masih banyak yang lainya yang banyak ditanam
oleh masyarakat Bentarsari dan sekitarnya.
Dari tahun ke tahun batik
tulis tangan yang telah mereka ajarkan terus mengalami peningkatan baik dari
segi kwalitas, warna, maupun motif batik. Terbukti dengan ditemukanya tempat
produksi pewarna dari bahan kimia pada tahun 1960 di Kota Tegal dan Pekalongan
oleh Mbah Rukirat, bahan pewarna tersebut diantaranya soga nila, wedelan hitam,
dan soga batang. Hal ini memudahkan para pembatik tulis tangan untuk
meningkatkan mutu warna dari batik yang di buat.
Kira-kira tahun 1905 pembatik
di wilayah Salem
sudah mulai sedikit berkembang walaupun hanya ada beberapa pembatik saja dari
setiap dusunnya. Pada tahun 1925 batik salem sudah mulai dikembangkan terbukti
dengan munculnya beberapa pembatik yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah
tangga yang tinggal di Kampung Parenca Desa Bentarsari seperti Bu Kuswi, Ibu
Kus, Ibu Mur, Bu Makmun, Bu Walad, mereka yang mampu membuatkan batik-batik
untuk para pejabat pegawai kecamatan, pegawai kawedanan, dan untuk para juru
tulis walaupun batik yang dihasilkan sangat sederhana motif batik yang
dihasilkan adalah batik ukel, sekoteng, uwal-awil, halang lembut, halang badag,
halang barong, kopi pecah dan manggar.
Pada
tahun 1935 batik salem sudah mulai berkembang terbukti dengan adanya kaum
pendatang dari Tasik Jawa Barat yang menjual peralatan batik salah satunya
yaitu Bapak Halil yang bertempat di pasar Bentar, ini menunjukan bahwa para
pembatik baru pada saat itu sudah bermunculan dan memang untuk bahan batik
sangat sulit diperoleh karena letak geografis dan transportasi yang masih
sangat tradisional pada saat itu maka, dengan kondisi yang seperti ini
berdatangan penjual bahan batik bahan-bahan yang dijual seperti kain mori, Soga
nila, dan alat lainnya. Pada saat itu masyarakat belum mengenal pewarna batik
sehingga batik yang dihasilkan masih klasik/ tidak berwarna seperti batik ukel,
batik Sekoteng dll model warna batik tersebut hanya mempunyai warna hitam dan putih saja
karena soga yang digunakan adalah soga nila cangkudu, soga kulit godog, dan
rempah-rempah seperti daun Kamandika dan daun Tarum yang banyak ditanam oleh
masyarakat Desa Bentarsari, Desa Bentar.
Pada tahun 1950-an Sampai
sekarang batik salem
sudah berkembang sesuai dengan meningkatnya keahlian para pembatik walaupun
masih dikategorikan sangat sederhana dan tradisional. Pada saat itu batik-batik
di Salem yang diproduksi sudah mampu memenuhi pesanan dari para pengepul untuk
di jual ke wilayah lain
Pada saat ini dimana arus
transportasi, komunikasi yang cukup memadai dan mendukung sehingga para
pembatik meningkatkan kualitas dan hasil batiknya mulai dari motif batik, pewarna, dan bahan-bahan lainnya.
Untuk memenuhi pesanan konsumen para pembatik mengembangkan kreatifitasnya
dengan membuat motif –motif batik baru yang dirancang sendiri salah satunya
oleh Bapak Warwin dan Ibu Ruwidah dari Mitra Batik Desa Bentar motif-motif
batik yang dihasilkan yaitu batik mahkota, Bintang melati, teratai, dengan
corak warna warni yang bermacam-macam, kuat dan tahan lama walaupun masih ada corak
lama atau model yang tradisional.
Dari
tahun ke tahun batik salem
sedikit berkembang dan dikenal di Kabupaten Brebes. Pada saat itu batik salem belum dikenal pada tingkat provinsi.
Pada tahun 1990 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes batik
salem sudah mulai dikenal dan di minati oleh
sebagian masyarakat Brebes pada tingkat masyarakat menengah ke atas karena
batik salem
bersifat klasik dan asli ditulis tangan.
Pada
Bulan Mei tahun 2002 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Brebes para pembatik salem
mendapat bantuan alat, bimbingan, dan pembinaan. Alat yang di berikan yaitu seperti
canting, kompor minyak, pegawangan, bak plastik, dan drum untuk melorod batik,
juga dengan bimbingan dan pembinaan dengan mendatangkan orang-orang yang sudah
professional dalam pegolahan batik. Muali dari teknik membuat motif baru,
teknik pewarnaan, dan teknik penyempurnaan kwalitas batik. Setelah mendapatkan
pembinaan para pembatik mengembangkan kreatifitasnya dengan membuat motif-motif
yang baru seperti motif batik bintang melati, motif batik mahkota, motif batik
seruni, teratai dan lain-lain. Juga dengan pewarnaan yang bervariasi dan
berkwalitas seperti naptol, sol, frozen dan fremasol. Hal ini menjadikan produk
batik tulis tangan salem
lebih berkualitas dan bermutu serta warna yang awet dan tahan lama. Seiring
dengan perkembangan, kemajuan pembatik sangat pesat tercatat dari tahun 2003
pembatik di sudah berjumlah 200 Orang hingga pada tahun 2007 meningkat menjadi
300 orang, dan tak jarang dari mereka menjadi pengepul batik salah satunya
yaitu Ibu Ruwidah ( MITRA BATIK ), ibu Julaiha, ibu Karas, ibu sutini, ibu
Ratminah.
Dari tahun ke tahun akhirnya batik
salem sudah dikenal ditingkat Jawa Tengah
terbukti dengan diikutsertakannya batik salem
dalam pameran-pameran tingkat Jawa Tengah dan sudah adanya masyarakat dari luar
wilayah wilayah kabupaten Brebes yang memakai Batik salem
seperti wilayah semarang
dan sekitarnya. Pada Bulan April 2004 kembali
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Brebes bersama Bapak Bupati
Brebes Bapak Indra Kusuma, S.Sos dan Lembaga lainnya mengadakan pembinaan dan
pengarahan sambil memperkenalkan batik cap dan tulis tangan kepada para
pembatik di desa Bentar sehingga batik salem dapat menjadi satu kerajinan khas masyarakat
Brebes.
Pada tahun 2003 melalui
dukungan dan bantuan Bapak Bupati Brebes Bapak Indra Kusuma, S.Sos dan Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kab. Brebes pemasaran batik tulis tangan dari Salem mengalami kemajuan
yang sangat pesat. Terbukti dengan diberlakukanya intruksi Bapak Bupati yag
mewajibkan para Pegawai Negeri Sipil harus memakai batik tulis tangan Salem setiap hari Kamis.
Sehingga batik tulis tangan semakin dikenal di seluruh masyarakat Kab. Brebes.
Pada
Bulan Juni tahun 2002 melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Brebes Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah batik salem sudah
dikenal dan diakui di tingkat Nasional terbukti dengan diikutsertakannya batik
salem dalam pameran-pameran tingkat Nasional dan pameran-pameran yang pernah
diikuti antar lain Pameran Batik tulis yang bertempat di Ujung Pandang Sulawesi
Selatan, Jakarta, alun-alun Salatiga, hingga pada tanggal 1 September 2007
Mitra Batik Ibu Warwin mendapat undangan Dari Wali kota Pekalongan pada acara
Pembukaan Pekan Batik Internasional tahun 2007 dan silaturahmi saudagar batik
Pekalongan yag dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia , pada tanggal
11 Agustus 2007 melalui Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tangah kembali Mitra
Batik Ibu warwin Sunardi mendapat undangan pameran Lomba Rancang Busana Batik
dan Tenun Jawa Tengah dalam rangka Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke-57 dan
Semarang Pesona Asia ( SPA ) 2007, pada tanggal 14 Juli 2007 melalui Deperindag
Kab. Brebes Mitra Batik Ibu Warwin Sunardi mendapat undangan untuk mengikuti
kegiatan Pameran Pekan Kesenian Bali 2007 (termasuk batik salem)
di Artha Chandra Art Center Denpasar – Bali
selama satu Bulan. Dan pada bulan Agustus sebagai perwakilan dari kab. Brebes
untuik menghadiri pameran batik se- Indonesia yang bertempat di Batam,
namun kami tidak bisa menghadirinya dikarenakan adanya beberapa halangan. Pada
tanggal 29 Januari 2008 Mitra Batik mendapat undangan untuk pameran di Semarang
yang diadakan oleh Paguyuban pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono Semarang
selama satu minggu
Akhirnya
kami berharap batik salem
dapat menjadi salah satu kerajinan khas warga Kabupaten Brebes yang dapat
membawa nama baik Brebes di tingkat Propinsi, Nasional dan Internasional. Tak
lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Bupati Brebes Bapak Indra
Kusuma S.Sos dan DEPERINDAG Kab. Brebes atas pembinaan yang telah dilakukan pada
para pembatik di salem
Bentar,
13 Pebruari 2008
MITRA BATIK
Langganan:
Komentar (Atom)
